简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Black Friday di Wall Street, Saham Semikonduktor Anjlok 10%, Emas dan Perak Tertekan Tajam
Ikhtisar:Tinjauan PasarLaporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat bulan Mei mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja, hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar, memicu kekhawatiran bahwa Federal Reser
Tinjauan Pasar
Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat bulan Mei mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja, hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar, memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga. Para trader kini sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Akibatnya, Nasdaq anjlok 4,18%, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) merosot 10% dalam satu hari, menghapus kapitalisasi pasar lebih dari USD 1 triliun.
Pasar obligasi AS juga mengalami tekanan besar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,53%, sementara indeks dolar AS menguat 0,6%, mencatat kenaikan harian terbaik dalam dua bulan terakhir. Di tengah kombinasi dolar yang kuat dan imbal hasil yang meningkat, harga emas turun 3,28%, perak anjlok 8,05%, dan Bitcoin jatuh menembus level USD 60.000. Di sisi geopolitik, ketegangan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan baru terhadap Israel.
■ NFP Melampaui Ekspektasi, Saham Teknologi Tertekan
Data NFP AS bulan Mei menunjukkan penambahan 172 ribu pekerjaan baru dengan tingkat pengangguran sebesar 4,3%. Pasar kini sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed tahun ini.
Saham AI dan teknologi berkapitalisasi besar mengalami aksi jual besar-besaran. Indeks S&P 500 turun 2,64%, sementara Nasdaq merosot 4,18%. Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok 10% dalam sehari, menghapus lebih dari USD 1 triliun nilai pasar dan mencatat penurunan harian terbesar dalam enam tahun terakhir.
Saham NVIDIA turun 6,2%, sedangkan Intel, Micron, AMD, dan Broadcom melemah antara 7,9% hingga 13,3%. Meta juga turun 5,5%, mencerminkan aksi pelepasan posisi pada transaksi yang sebelumnya sangat padat (crowded trades).
■ Ekspektasi Suku Bunga Berubah, Obligasi AS Tertekan
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun sempat melonjak 15 basis poin, sementara tenor 10 tahun naik ke 4,53%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun bahkan kembali menembus level psikologis 5%.
Goldman Sachs merevisi pandangannya dengan menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga dari 10% menjadi 20%, sementara Citigroup tetap mempertahankan proyeksi tiga kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
Indeks dolar AS menguat 0,6%, mencatat performa harian terbaik dalam dua bulan terakhir. Kombinasi dolar yang kuat dan suku bunga tinggi terus memberikan tekanan terhadap aset berisiko.
■ Emas dan Perak Terjun Bebas, Fungsi Safe Haven Melemah
Harga perak spot anjlok 8,05% ke USD 67,9 per ons, sedangkan emas turun 3,28% ke USD 4.329 per ons, menghapus seluruh kenaikan yang tercatat sejak awal tahun.
Kenaikan tajam dolar AS dan imbal hasil obligasi memicu aksi jual besar pada logam mulia. Dalam jangka pendek, peran emas sebagai aset safe haven gagal memberikan perlindungan di tengah sentimen risk-off.
Bitcoin sempat jatuh 7% dan turun di bawah USD 60.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Ethereum merosot 11% dalam sehari dan mencatat penurunan lebih dari 20% sepanjang pekan.
■ Ketegangan Geopolitik Memanas Kembali
Iran kembali meluncurkan serangan terhadap Israel setelah jeda dua bulan. Militer Israel berhasil mencegat sejumlah rudal, sementara Bahrain dan Kuwait mengaktifkan sistem peringatan pertahanan udara. Militer AS juga dilaporkan menyerang target yang terkait dengan Iran.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah “menyelesaikan misinya” dan sebaiknya kembali ke meja perundingan. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, meskipun harga minyak tidak melonjak secara ekstrem karena pasar masih melihat pasokan global relatif stabil.
Minyak mentah WTI ditutup turun 2,69% ke USD 90,5 per barel, sementara Brent turun sekitar 2%.
Prospek Pasar● Apakah Sentimen Risk-Off Global Akan Berlanjut?
Setelah aksi jual besar yang memicu “Black Friday” di pasar AS, sentimen negatif berlanjut pada perdagangan Asia hari Senin. Futures saham AS bergerak lebih rendah, sementara indeks Nikkei Jepang dibuka melemah tajam.
Saham AI dan teknologi dengan valuasi tinggi masih menghadapi tekanan deleveraging. Setelah indeks semikonduktor kehilangan 10% dalam sehari dan menghapus kapitalisasi pasar senilai USD 1 triliun, investor akan mencermati apakah aksi jual dapat mereda dan apakah indeks volatilitas VIX yang melonjak ke level 21 dapat kembali turun. Kedua faktor tersebut akan menjadi indikator penting bagi stabilisasi pasar minggu ini.
● Repricing Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Data NFP yang mencapai 172 ribu, hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar, telah mendorong investor untuk sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Goldman Sachs juga telah menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga dari 10% menjadi 20%.
Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada komentar pejabat Federal Reserve dan data inflasi AS. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga terus menguat, imbal hasil obligasi AS dan dolar berpotensi tetap tinggi, sehingga memberikan tekanan berkelanjutan terhadap saham pertumbuhan dan logam mulia.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.

